Saturday, February 22, 2014

Putri Raja Bima dan Panglima Bone

CERITA RAKYAT BUGIS
Putri Raja Bima dan Panglima Bone

Raja Bima , Sultan Malikuk Said mempunyai seorang putri yang bernama Fatimah , seorang putri yang terkenal sakti oleh rakyatnya bahkan hingga daerah lainnya dan diberi gelar oleh orang Makassar dengan sebutan Karaeng Basse’ Bumbung kebo’. Ketika itu, Sultan Malikul Said bertanya kepada Fatimah, wahai anakku Fatimah , tidak terlintas kah di benakmu untuk memiliki seorang pendamping.

Fatimah pun menjawab, ada apa gerangan sehingga Ayah berkata demikian? Sultan Malikul Said pun menjawab, Karena dari sekian banyak pria yang datang melamar mu tidak seorang pun, yang kamu terima. Fatimah pun menjawab, Aku tidak akan menikah, selama Aku belum mendapatkan seorang Pria, yang mempunyai ilmu setara atau melebihi ilmu yang Aku punya walaupun dia, menyerupai hewan.

Mendengar perkataan putrinya, Sultan Malikul Said pun, bertanya kepada Fatimah, wahai Anak ku jika pria itu ada darimana asalnya. Fatimah pun, menjawab, kelak dia akan datang dari arah Ko’banga ( kerajaan Gowa) dengan menggunakan perahu. Sultan Malikul Said pun menjawab, Jika itu yang kamu inginkan Aku tidak dapat berbuat apa-apa.

Hari-hari pun berlalu namun pria itu belum datang juga, akhirnya Sultan Malikul Said datang kepada anaknya, wahai anak ku sampai kapan kah kamu akan menunggunya? Fatimah pun menjawab, samapai dia datang, tidak peduli berapa lama Aku akan menunggu. Secara diam-diam Sultan Malikul Said, menyebarkan kabar mengenai putrinya yang menginginkan seorang pria yang mempunyai ilmu yang setara dengannya atau bahkan yang melebihi ilmunya.

Pada akhirnya kabar mgenai pria yang diinginkan Fatimah samapi ke Ko’banga, dan akhirnya di dedengar oleh panglima kerajaan Bone, yang bernama, Abdullah yang terkenal akan ke saktiannya. Akhirnya Abdullah pun, pergi menuju Kerajaan Bima, dan sebelum dia pergi, dia berpesan kepada semuah orang yang ada di Mare’ , Aku tidak akan kembali sebelum Aku membawanya pulang, Abdullah pun pergi menuju Bima.

Dan akhirnya Abudllah pun tiba di Sumba, tanpa di beri tahu, Fatimah sudah menyadari akan kehadiran orang yang dicarinya itu, tanpa sepatah kata kepada Sultan, Fatimah lansung menuju Sumba tempat dimana, Abdullah datang. Akhirnya Fatimah pun tiba di Sumba, dan menuju kapal yang di tumpangi Abdullah, saat Fatima tiba disana Abdullah pun berkata jika Aku orang yang kamu nanti naiklah keatas perahu ku dan Aku akan membawa mu pergi. Fatimah pun naik keatas perahu Abdullah, dan akhirnya mereka pun berlayar menuju Bone.

Saat setelah kepergian Fatimah, Sultan mengutus Adik Fatimah yang bernama, I Ratu pergi menyusul Fatimah ke Bone untuk menyampaikan jikalau Sultan Malikul Said, merestui hubungan mereka. Dan saat itu, Fatimah dan I Ratu tinggal dan menetap di Bone bersama Abdullah, tepatnya di Mare’ karalla dan pindah ke Leang-leang , Maros dan disana Abdullah diangkat sebagai pemimpin atau raja gallarrang Leang-leang.
Read more >>

Legenda Asal Muasal Putri Duyung dan Lumba-lumba (Versi Makassar)

Pada Zaman dahulu kalah di tepi pantai Tope Jawa, tinggal sebuah keluarga miskin yang hidup serba kekurangan, mereka adalah Tutu dan Bauq serta Putrinya yang bernama Rannu. Ketika itu Taba pergi mencari ikan di laut dengan menggunakan jala, untuk dimakannya bersama anak dan istrinya, setelah lama mencari ikan akhirnya Taba pun, mendapat satu ekor ikan pari kecil, sungguh naas nasib Taba karena setelah lama mencari ikan namun, dia hanya mendapatkan satu ekor ikan pari kecil.

Taba pun pulang kerumanya dengan membawa ikan pari kecil itu, setiba di rumah Taba pun memberikan ikan itu kepada istrinya untuk dimasak, karena tidak ada beras akhirnya taba pun memutuskan untuk mencari ubi kayu di kebun, karena tidak tahan lagi menahan rasa lapar akhirnya istri dan anaknya memutuskan untuk memakan ikan pari yang suda di masaknya itu, hingga tidak tersisakan.

Setelah istri dan anaknya menghabiskan ikan pari itu akhirnya, Taba pun datang dengan membawa ubi kayu dan menyuruh istrinya untuk memasak ubi kayu itu, setelah ubi itu masak istri taba pun memanggil taba untuk makan, Taba pun kemeja makan dengan niat untuk makan dan memanggil putrinya untuk makan setelah mereka berkumpul di meja makan Taba pun menanyakan ikan yang dibawanya itu, istri nya pun terdiam karena ikan yang di tanyakan itu suda habis.

Taba pun bertanya kembali; mana ikan yang Aku bawa tadi itu? Istrinya pun memberitahu Suaminya bahwasanya iakan yang di suruh masak itu telah habis di makan.

Mendengar penjelasan istrinya itu, akhirnya Taba pun marah dan pergi keluar rumanya, karena merasa bersalah akhirnya, istri Taba pun memutuskan untuk pergi mencari ikan di laut karena tidak mendapat kan ikan akhirnya dia pun menyelam kedalam laut dan akhirnya menjadi seekor ikan yang di beri nama Duyun. Karena dua hari tidak melihat istrinya akhirnya taba pun memutuskan untuk pergi mencari istrinya kedalam laut dan akhirnya merubah menjadi seekor yang di beri nama Lumba-lumba.

Setelah beberapa hari tidak melihat Ayah dan Ibunya, Rannu pun memutuskan untuk pergi mencari Ayah dan Ibunya, ketika mencari Ayah dan Ibunya di tepi pantai akhirnya, Rannu pun melihat seekor ikan Ruyung di ambil dari kata dalam bahasa Makassar Ruyung yang berarti menyanyi karena Ikan yang datang ketika itu mengeluarkan suara yang datang dari sebelah barat laut yang datang menghampirinya sambil mencucurkan air mata ikan itu pun, berkata Aku ini Ibu mu nak dan pergi ke menuju laut.

Setelah Ibunya pergi, Rannu pun melihat seekor ikan duyung yang di ambil dari kata dalam bahasa Makassar aqduyung-duyung yang berarti datang, dari sebeah timur yang datang menghampirinya sambil berkata Aku ini Ayah mu, dan pergi menuju laut bebas. Dan akhirnya Rannu pun, menangis sambil berkata; disebelah barat

Aku melihat Ibu ku yang telah menjadi seekor ikan yang mengatakan dia Ibu ku dan pergi, begitu pun di sebelah timur, Aku melihat seekor ikan besar yag mengatakan dirinya Ayah ku dan juga pergi meninggalkan ku.
Read more >>

Thursday, February 20, 2014

Legenda Asal Mula Nama Gunung Mekongga


Gunung Mekongga merupakan gunung tertinggi di pegunungan Mekongga yang membentang di sisi utara wilayah Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara. Kawasan pegunungan ini merupakan jajaran pegunungan Verbeck yang puncak-puncaknya terdiri dari jenis batuan karst dataran tinggi. dengann puncak tertinggi bernama mosero-sero dengan ketinggian 2.620 mdpl.

Terletak di Kecamatan Ranteangin, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Menurut bahasa setempat, kata gunung mekongga berarti gunung tempat matinya seekor elang atau garuda raksasa yang ditaklukkan oleh seorang pemuda bernama Tasahea dari negeri Loeya. Peristiwa apakah gerangan yang terjadi di daerah itu, sehingga Tasahea menaklukkan burung garuda itu? Lalu, bagaimana cara Tasahea menaklukkannya? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Asal Mula Nama Gunung Mekongga berikut ini.

* * *
Alkisah, pada suatu waktu negeri Sorume (kini bernama negeri Kolaka) dilanda sebuah malapetaka yang sangat dahsyat. Seekor burung garuda raksasa tiba-tiba mengacaukan negeri itu. Setiap hari burung itu menyambar, membawa terbang, dan memangsa binatang ternak milik penduduk, baik itu kerbau, sapi, atau pun kambing. Jika keadaan itu berlangsung terus-menerus, maka lama-kelamaan binatang ternak penduduk akan habis.

Penduduk negeri Kolaka pun diselimuti perasaan khawatir dan cemas. Jika suatu saat binatang ternak sudah habis, giliran mereka yang akan menjadi santapan burung garuda itu. Itulah sebabnya mereka takut pergi ke luar rumah mencari nafkah. Terutama penduduk yang sering melewati sebuah padang luas yang bernama Padang Bende. Padang ini merupakan pusat lalu-lintas penduduk menuju ke kebun masing-masing. Sejak kehadiran burung garuda itu, padang ini menjadi sangat sepi, karena tidak seorang pun penduduk yang berani melewatinya.

Pada suatu hari, terdengarlah sebuah kabar bahwa di negeri Solumba (kini bernama Belandete) ada seorang cerdik pandai dan sakti yang bernama Larumbalangi. Ia memiliki sebilah keris dan selembar sarung pusaka yang dapat digunakan terbang. Maka diutuslah beberapa orang penduduk untuk menemui orang sakti itu di negeri Solumba. Agar tidak disambar burung garuda, mereka menyusuri hutan lebat dan menyelinap di balik pepohonan besar.

Sesampainya di negeri Solumba, utusan itu pun menceritakan peristiwa yang sedang menimpa negeri mereka kepada Larumbalangi.

”Kalian jangan khawatir dengan keadaan ini. Tanpa aku terlibat langsung pun, kalian dapat mengatasi keganasan burung garuda itu,” ujar Larumbalangi sambil tersenyum simpul.

”Bagaimana caranya? Jangankan melawan burung garuda itu, keluar dari rumah saja kami tidak berani,” ucap salah seorang utusan.

”Begini saudara-saudara. Kumpulkan buluh (bambu) yang sudah tua, lalu buatlah bambu runcing sebanyak-banyaknya. Setelah itu carilah seorang laki-laki pemberani dan perkasa untuk dijadikan umpan burung garuda itu di tengah padang. Kemudian, pagari orang itu dengan bambu runcing dan ranjau!” perintah Larumbalangi.

Setelah mendengar penjelasan itu, para utusan kembali ke negerinya untuk menyampaikan pesan Larumbalangi. Penduduk negeri itu pun segera mengundang para kesatria, baik yang ada di negeri sendiri maupun dari negeri lain, untuk mengikuti sayembara menaklukkan burung garuda.

Keesokan harinya, ratusan kesatria datang dari berbagai negeri untuk memenuhi undangan tersebut. Mereka berkumpul di halaman rumah sesepuh Negeri Kolaka.

”Wahai saudara-saudara! Barangsiapa yang terpilih menjadi umpan dan berhasil menaklukkan burung garuda itu, jika ia seorang budak, maka dia akan diangkat menjadi bangsawan, dan jika ia seorang bangsawan, maka dia akan diangkat menjadi pemimpin negeri ini,” sesepuh negeri itu memberi sambutan.

Setelah itu, sayembara pun dilaksanakan dengan penuh ketegangan. Masing-masing peserta memperlihatkan kesaktian dan kekuatannya. Setelah melalui penyaringan yang ketat, akhirnya sayembara itu dimenangkan oleh seorang budak laki-laki bernama Tasahea dari negeri Loeya.

Pada waktu yang telah ditentukan, Tasahea dibawa ke Padang Bende untuk dijadikan umpan burung garuda. Ketika berada di tengah-tengah padang tersebut, budak itu dipagari puluhan bambu runcing. Ia kemudian dibekali sebatang bambu runcing yang sudah dibubuhi racun. Setelah semuanya siap, para warga segera bersembunyi di balik rimbunnya pepohonan hutan di sekitar padang tersebut. Tinggallah Tasahea seorang diri di tengah lapangan menunggu kedatangan burung garuda itu.

Menjelang tengah hari, cuaca yang semula cerah tiba-tiba berubah menjadi mendung. Itu pertanda bahwa burung garuda sedang mengintai mangsanya. Alangkah senang hati burung garuda itu saat melihat sosok manusia sedang berdiri di tengah Padang Bende. Oleh karena sudah sangat kelaparan, ia pun segera terbang merendah menyambar Tasahea. Namun, malang nasib burung garuda itu. Belum sempat cakarnya mencengkeram Tasahea, tubuh dan sayapnya sudah tertusuk bambu runcing terlebih dahulu.

”Koeeek... Koeeek... Koeeek... !!!” pekik burung garuda itu kesakitan.

Tasahea pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan cekatan, ia melemparkan bambu runcingnya ke arah dada burung garuda itu. Dengan suara keras, burung garuda itu kembali menjerit kesakitan sambil mengepak-epakkan sayapnya. Setelah sayapnya terlepas dari tusukan bambu runcing, burung itu terbang tinggi menuju Kampung Pomalaa dengan melewati Kampung Ladongi, Torobulu, Amesiu, Malili, dan Palau Maniang. Akan tetapi, sebelum sampai Pomalaa, ia terjatuh di puncak gunung yang tinggi, karena kehabisan tenaga. Akhirnya ia pun mati di tempat itu.


Tasahea menombak burung garuda

Sementara itu, penduduk negeri Kolaka menyambut gembira Tasahea yang telah berhasil menaklukkan burung garuda itu. Mereka pun mengadakan pesta selama tujuh hari tujuh malam. Namun, ketika memasuki hari ketujuh yang merupakan puncak dari pesta tersebut, tiba-tiba mereka mencium bau bangkai yang sangat menyengat. Pada saat itu, tersebarlah wabah penyakit mematikan. Banyak penduduk meninggal dunia terserang sakit perut dan muntah-muntah. Sungai, pepohonan, dan tanaman penduduk dipenuhi ulat. Tak satu pun tanaman penduduk yang dapat dipetik hasilnya, karena habis dimakan ulat. Akibatnya, banyak penduduk yang mati kelaparan.

Penduduk yang masih tersisa kembali panik dan cemas melihat kondisi yang mengerikan itu. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, mereka pun segera mengutus beberapa orang ke negeri Solumba untuk menemui Larumbalangi.

”Negeri kami dilanda musibah lagi,” lapor salah seorang utusan.

”Musibah apalagi yang menimpa kalian?” tanya Larumbalangi kepada utusan yang baru datang dengan tergopoh-gopoh.

”Iya, Tuan! Negeri kami kembali dilanda bencana yang sangat mengerikan,” jawab seorang utusan lainnya, seraya menceritakan semua perihal yang terjadi di negeri mereka.

”Baiklah, kalau begitu keadaannya. Kembalilah ke negeri kalian. Tidak lama lagi musibah ini akan segera berakhir,” ujar Larumbalangi.

Setelah para utusan tersebut pergi, Larumbalangi segera memejamkan mata dan memusatkan konsentrasinya. Mulutnya komat-kamit membaca doa sambil menengadahkan kedua tangannya ke langit.

”Ya Tuhan! Selamatkanlah penduduk negeri Kolaka dari bencana ini. Turunkanlah hujan deras, agar bangkai burung garuda dan ulat-ulat itu hanyut terbawa arus banjir!” demikian doa Larumbalangi.

Beberapa saat kemudian, Tuhan pun mengabulkan permohonan Larumbalangi. Cuaca di negeri Kolaka yang semula cerah, tiba-tiba menjadi gelap gulita. Awan tiba-tiba menggumpal menjadi hitam. Tidak berapa lama, terdengarlah suara guntur bersahut-sahutan diiringi suara petir menyambar sambung-menyambung. Hujan deras pun turun tanpa henti selama tujuh hari tujuh malam. Seluruh sungai yang ada di negeri Kolaka dilanda banjir besar. Bangkai dan tulang belulang burung garuda itu pun terbawa arus air sungai. Demikian pula ulat-ulat yang melekat di dedaunan dan pepohonan, semuanya hanyut ke laut.

Itulah sebabnya laut di daerah Kolaka terdapat banyak ikan dan batu karangnya. Gunung tempat jatuh dan terbunuhnya burung garuda itu dinamakan Gunung Mekongga, yang artinya gunung tempat matinya elang besar atau garuda. Sementara sungai besar tempat hanyutnya bangkai burung garuda dinamakan Sungai Lamekongga, yaitu sungai tempat hanyutnya bangkai burung garuda.

Budak laki-laki dari Negeri Loeya yang berhasil menaklukkan burung garuda tersebut diangkat derajatnya menjadi seorang bangsawan. Sedangkan Larumbalangi yang berasal dari negeri Solumba diangkat menjadi pemimpin Negeri Kolaka, yaitu negeri yang memiliki tujuh bagian wilayah pemerintahan yang dikenal dengan sebutan ”Tonomotu‘o”.
* * *

Demikian ceita Asal Mula Nama Gunung Mekongga dari daerah Kolaka, Sulawesi Tenggara, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori mitos yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satunya adalah keutamaan sifat tidak mudah putus asa. Orang yang tidak mudah berputus asa adalah termasuk orang yang senantiasa berpikiran jauh ke depan dan pantang menyerah jika ditimpa musibah. Sifat ini ditunjukkan oleh perilaku masyarakat Kolaka yang ditimpa musibah.

Mereka tidak pernah berputus asa untuk mencari bantuan agar negeri mereka terbebas dari bencana. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
yang berpikiran jauh,
ditimpa musibah pantang mengeluh

yang berpikiran jauh,
tahu mencari tempat berteduh

(Samsuni /sas/97/09-08)

    Sumber :
    Isi cerita diadaptasi dari Sidu, La Ode. 1999. Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara. Jakarta: Grasindo.
    Anonim. gazeboijuk.multiply.com/journal/item/1/mekongga_maniss - 29k, diakses tanggal 3 September 2008.
    Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa.
http://melayuonline.com
Read more >>

Tuesday, February 18, 2014

Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara : Oheo dan Bidadari


Dahulu kala ada seorang pemuda yang hidup sebagai petani tebu. Pemuda itu bernama Oheo. Kebun yang ditanami tebu itu tumbuh dengan subur. Saat tebunya sudah tua, maka banyak sekali burung nuri yang hendak mandi di sungai yang berdekatan dengan kebun tebu itu. Sebelum mandi burung-burung itu selalu makan tebu, sehingga ampas tebu itu berceceran ke sana kemari. Melihat hal ini Oheo sangat marah terhadap burung tadi.

Pada suatu hari Oheo mengintip burung yang sedang mandi, namun pada saat melihat dia tercengang, karena tidak burung yang dilihat, tetapi melihat tujuh orang bidadari yang sedang mandi. Dia benar-benar kaget, karena melihat bidadari yang cantik jelita sedang mandi di sungai dan pakaiannya ditaruh di pinggir sungai. Oheo secara pelan-pelan merayap mengambil pakaian para bidadari yang sedang mandi itu. Lalu Oheo pulang.

Pakaian yang telah diambil itu disimpannya dekat jendela. Setelah itu Oheo mengintip lagi para Bidadari yang mandi di sungai. Bagi Bidadari yang sudah selesai mandi dia lalu memakai pakaian, kemudian terbang satu persatu dan kini masih ada satu Bidadari yang mondar mandir mencari pakaiannya. Pakaian yang dicarinya tidak ditemukan, kemudian muncullah Oheo, tetapi Bidadari itu langsung merendam ke dalam air, karena dia dalam keadaan telanjang. Sambil merendam dia bertanya kepada Oheo, apakah kamu melihat pakaianku yang saya taruh di sini? Saya tidak tahu, jawab Oheo.

Mendengar jawaban itu dia semakin sedih, lalu minta tolong. Kasihanilah daku, kakak-kakakku sudah terbang, sementara aku sendiri yang masih ada di sini, tutur Anawangguluri. Akhirnya Oheo merasa kasihan terhadap Anawangguluri. Oheo berkata keapda Anawangguluri, “Aku akan memberimu pakaian yang penting kamu mau saya kawini. ” Bidadari yang bernama Anawangguluri itu menerima permintaan dari Oheo. tetapi dia minta kepada Oheo. bila di hari-hari yang akau datang kita punya anak, maka kaulah yang membersihkan kotorannya. Oheo mau menerima permintaan Anawangguluri.

Kemudian dia kawin dengan Bidadari itu, keduanya hidup bahagia. Lama-kelamaan dia hamil, lalu lahirlah seorang anak sebagaimana permintaan awai sebelum kawin dengannya dia harus bersedia membersihkan kotoran anaknya. Begitu setiap anaknya buang kotoran Oheo yang membersihkan, begitu seterusnya yang dilakukan oleh Oheo.

Pada suatu saat Oheo sedang sibuk menganyam atap di depan rumah, sementara anaknya buang air besar lagi, maka istrinya memberi tahu kepada suaminya. Tetapi kali ini dia menolak tidak mau membersihkan kotoran anaknya. Dipanggilnya dia berulang-ulang, tetapi masih menolak juga. Bahkan dia berkata keras agar istrinya mau membersihkan kotoran anaknya. Istrinya berkata, “Apakah kamu lupa janjimu yang telah kamu sampaikan kepadaku sebelum kita kawin?” Jawab Oheo; kita tak perlu mengingat masa lalu, maka istrinya bertambah sedih.

Sambil menangis, kotoran anaknya dibersihkan sendiri. Setelah membersihkan dia berdiri di depan rumah lalu melihat kesana kemari, tiba-tiba nampak pakaiannya di ujung kasau dalam keadaan utuh. Alangkah senangnya. Dia duduk menggendong anaknya sambil diciumi, selelah ilu anaknya diletakkan di lantai, lalu memanggil suaminya.

Oheo, kini aku pergi jagalah anakmu baik-baik, aku akan kembali ke kayangan. Pada mulanya Oheo tidak percaya. Kemudian Oheo beranjak dari tempat duduknya, ternyata Bidadari itu sudah terbang dan menghinggap di atas pohon pinang. Oheo terus menerus mengejarnya, tetapi tidak membawa hasil, bahkan dia terbang terus dan kali ini hinggap di pohon kelapa. Pada akhirnya dia terbang ke luar angkasa dan tidak nampak lagi.

Keadaan semacam ini Oheo merasa sedih, karena istrinya telah tiada, sementara anaknya yang masih kecil itu harus dia rawat. Dia bertambah bingung bagaimana caranya merawat anak kecil itu, sehingga berusaha ke sana kemari untuk minta tolong mengantarkan anaknya ke luar angkasa. Satupun tidak ada yang sanggup mengantarkan ke luar angkasa.

Pada suatu hari Oheo menemui tumbuhan bernama Ue-Wai tumbuhan ini sanggup mengantarkan Oheo ke luar angkasa, tetapi ada syaratnya Oheo harus membuatkan cincin untuk dipasangkan pada setiap tangkai daun. Oheo merasa sanggup permintaan daun itu. Pemberangkatan menuju ruang angkasa segera dimulai, yaitu dengan cara Oheo duduk di atas tangkai daun lalu menggendong anaknya erat-erat, lalu daun itu menjulang tinggi ke angkasa. Tumbuhan itu memberi petunjuk kepada Oheo. Bila kita sudah sampai di luar angkasa. Maka terdengarlah ledakan yang sangat keras. Bunyi pertama tutuplah matamu, sedang bunyi kedua bukalah matamu! Ternyata benar juga, bahwa bunyi keras itu terdengar juga.

Setelah di angkasa ternyata sudah berada di halaman istana raja kayangan. Putri-putri raja itu sudah jalan-jalan di sekitar istana. Sementara salah satu dari putri raja itu ada yang melihat Oheo sedang duduk bersama anaknya’ di halaman istana raja. Keadaan semacam ini lantas dilaporkan kepada ayahnya. Setelah tahu sang raja berkata,” Jangan-jangan dia Oheo bersama anaknya”.

Ternyata benar, bahwa yang duduk di halaman istana itu adalah Oheo bersama anaknya yang sedang mencari istrinya. Saat itu Oheo dilarang menemui istrinya, kecuali harus melalui ujian terlebih dahulu. Ujian yang diberikan memang berat, yaitu Oheo harus mampu menumbangkan batu besar, sebesar istana. Yang kedua dia diuji dengan memungut bibit padi yang tertabur di padang rumput dengan bersih tanpa tersisa sedikitpun.

Kedua ujian ini bisa lulus, karena mendapat bantuan dari tikus, burung serta hewan lainnya. Ujian berikutnya yang dianggap berat, yaitu bisa bertemu dengan istrinya pada sebuah tempat tidur pada waktu malam yang gelap gulita, padahal tempat tidur yang terdapat dalam istana bentuknya sama. Ujian kali ini benar-benar berat sekali, dia termenung kalau tidak lulus nyawanya akan terancam. Saat itu dia bersedih hati, karena tidak bisa memecahkan masalah, bahkan mengalami jalan buntu.

Dalam keadaan bingung dan panik itu tiba-tiba datang seekor kunang-kunang seraya berkata kepada Oheo, “Apa yang sedang kau pikir, kok bingung sekali nampaknya?” Hai kunang aku benar-benar bingung malam ini, karena mencari istriku dalam gelap gulita, sementara bentuk kamarnya sama dan istriku juga sama dengan saudara-saudaranya. Mendengar keluhan dari Oheo tadi, lalu kunang-kunang berkata, “Kamu tidak perlu cemas, dimana saja aku nanti hinggap, maka disitulah kamar istrimu.” Oleh karena itu malam ini ikutilah aku! Mendengar perkataan kunang-kunang itu Oheo hilang sedihnya, sehingga dia mengikuti kemana arah kunang itu terbang.

Pada saat itu juga kunang-kunang itu hinggap di kamar istrinya. Dengan gemetar dan dingin badannya Oheo masuk ke dalam kamar istrinya, ternyata benar juga dalam kamar itu ada istrinya, sehingga malam itu anaknya yang masih kecil itu bisa tidur besama ibunya. Alangkah bahagianya bisa bertemu istrinya kembali pada malam yang gelap gulita itu.

Pagi harinya sang raja memerintahkan mereka itu segera kembali ke bumi. Oheo bangga sekali mendengar perintah raja itu, istrinya bersedih hati. Setelah itu mereka mempersiapkan alat secukupnya untuk segera turun ke bumi. Peralatannya sudah siap lalu mereka turun ke bumi melalui tali dalam keadaan selamat sampai di bumi.

Setiba di bumi mereka hidup bersama membentuk keluarga baru lagi. Oheo membuka lahan pertanian dan ditanami padi, jagung, buah-buahan dan berbagai macam tanaman lainnya. Dengan hasil pertanian itu Oheo bersama istrinya dan anaknya hidup makmur.
Read more >>

Followers